Admin STIPAS Keuskupan Agung Kupang
Yoseph Lodowik Deki Dau resmi meraih gelar Doktor Ilmu Sosial setelah menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Auditorium Lantai 2 Gedung Pascasarjana Universitas Merdeka Malang, Rabu, 29 Januari 2026.
STIPAS KAK KUPANG – Yoseph Lodowik Deki Dau resmi meraih gelar Doktor Ilmu Sosial setelah menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Auditorium Lantai 2 Gedung Pascasarjana Universitas Merdeka Malang, Rabu, 29 Januari 2026. Sidang terbuka ini merupakan tahap akhir setelah sebelumnya promovendus dinyatakan lulus pada sidang akhir tertutup.
Dalam sidang tersebut, Yoseph mempertahankan disertasi berjudul Moderasi Beragama pada Masyarakat di Perkotaan. Studi tentang Interaksi Sosial Umat Beragama di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Penelitian ini mengkaji praktik moderasi beragama sebagai proses sosial yang hidup dalam interaksi keseharian masyarakat perkotaan yang multireligius.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analitis dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian meliputi tokoh agama, tokoh masyarakat, umat beragama, dan perwakilan pemerintah setempat di Kelurahan Oebufu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial antarumat beragama berlangsung terbuka melalui relasi bertetangga, gotong royong, partisipasi kegiatan sosial, dan komunikasi sehari-hari. Pola ini membentuk modal sosial berbasis kepercayaan yang kuat.
Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya bergantung pada kesadaran individu, tetapi terlembaga dalam struktur sosial dan pranata budaya lokal. Tradisi, norma bersama, serta peran tokoh agama dan tokoh masyarakat berfungsi sebagai mediator sosial dalam menjaga dialog dan mencegah konflik, terutama saat muncul isu eksternal seperti provokasi media sosial.
Penyanggah Prof. Dr. Agus Sholahuddin, M.S., menyoroti pengaruh faktor eksternal, khususnya media sosial, yang kerap membesar-besarkan persoalan kecil dan berpotensi memicu ketegangan. Ia meminta rekomendasi konkret untuk merespons persoalan tersebut. Menanggapi hal itu, Yoseph menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk melakukan sosialisasi isu secara cepat dan tepat. Ia juga menegaskan perlunya forum diskusi rutin antar pimpinan umat beragama, termasuk Islam dan Protestan, guna menjaga komunikasi dan kepercayaan publik.
Penguji Dr. Yuntawati Fristin, S.Sos., M.AB., mempertanyakan titik rapuh dalam praktik moderasi beragama dan kondisi yang membuatnya rentan runtuh. Promovendus menjelaskan bahwa komunikasi antarumat beragama menjadi aspek paling krusial. Ketika komunikasi melemah dan tidak dimediasi dengan baik, potensi konflik dapat meningkat, terutama di tengah arus informasi eksternal yang tidak terverifikasi.
Disertasi ini dinilai memiliki kebaruan karena menempatkan moderasi beragama sebagai mekanisme sosial kultural yang dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata konsep normatif atau kebijakan negara. Keunikan penelitian terletak pada penekanan peran pranata lokal dan otoritas kultural dalam menopang harmoni sosial masyarakat perkotaan yang majemuk.
Sidang terbuka menyatakan disertasi diterima dan promovendus dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Dengan keputusan tersebut, Yoseph Lodowik Deki Dau berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Sosial dengan konsentrasi Sosial dan Budaya dari Universitas Merdeka Malang.